Wednesday, September 30, 2015
Monday, September 28, 2015
Selected Art Works
Illustration Art Works of Wiwik Sri Wulandari
Bla..Bla..Bla.., silkscreen and woodcut on paper, 30 x 40 cm, 1998
Wiwik Sri Wulandari, Bukan Seperti ini yang kami kehendaki, 105 x 61 cm, hardboard cut on paper, 1998
Wiwik Sri Wulandari, A Half Mind, Hardboard cut on paper, 30 x 40 cm, 2008
Wiwik Sri Wulandari, Daily Hitler's Game, 100x80cm, digital prints on canvas, 2008
Wiwik Sri Wulandari, Dance of the Couple, Relief prints/Collage prints, 40 x 40 cm, 1994
Wiwik Sri Wulandari, About She and fungi, Drypoint on paper, 20 x 20 cm, 2006
Tuesday, June 9, 2015
Resensi Buku ST.Sunardi oleh Wiwik Sri Wulandari,M.Sn.
ST.SUNARDI, FLORIA DAN
CENTRE OF EXELLENCE
(catatan kecil atas buku karya
St. Sunardi: Vodka dan Birahi Seorang Nabi
oleh Wiwik Sri Wulandari, M.Sn. – dosen pada Jur.Seni Murni Fak.Seni Rupa ISI Yogyakarta "tercinta"
Membaca Buku karya St. Sunardi:
Vodka dan Birahi Seorang Nabi (penerbit Jalasutra, Yogyakarta, 2012) tidak bisa dilepas begitu saja dengan seorang St. Sunardi yang sedemikian memiliki perhatian yang dalam terhadap persoalan seni, budaya dan religi. Sejumlah artikel yang dituangkan dalam buku ini merupakan kumpulan tulisan ilmiah beliau yang diintensikan untuk meneropong, menimbang dan mengkritisi dengan sangat jelas, lugas, teliti, sekaligus cerdas mengenai persoalan seni, budaya maupun religi. Melalui gaya penulisan yang tak pelak mengundang decak kagum, karena tak disangka bahwa setiap artikel yang benar-benar ilmiah yang disampaikan beliau dengan gaya penulisan yang akrab, santai namun runut dan mengandung validitas keilmiahaan yang tinggi. Sepintas orang dibuat terpana, apakah tulisan ini adalah karya fiksi atau karya ilmiah. Saya jamin semua artikel yang beliau tuliskan adalah benar-benar tulisan yang sangat ilmiah dan sangat dapat dipertanggungjawabkan sebagai rujukan ilmiah bidang seni, budaya maupun religi. Demikianlah kekuatan bertutur dan berbahasa seorang St. Sunardi yang saya kira sudah melewati tahap formalisme berbahasa ilmiah sehingga menulis baginya juga adalah sebuah ekspresi berkesenian atau sudah mencapai pada tahapan interpretasi seni. Metode inilah yang mungkin juga dapat dijadikan sumur ilmu pengetahuan bagi setiap pembacanya. Menilik sejumlah artikel dalam buku ini, seorang St. Sunardi juga tidak lepas dari pengaruh beliau yang berlatarbelakang pengka!i budaya dengan pendekatan kajian budaya yang kental dengan nuansa kritisisme namun selektif dalam menjawab dan melahirkan gagasan-gagasan baru. Saya tentu tidak akan secara lengkap mencoba membaca keseluruhan artikel dalam buku St. Sunardi ini yang sangat kaya dan kritis pemikirannya ini. Namun yang dapat saya tawarkan hanyalah mencuplik dari sebagian tulisan beliau kepada anda sekalian.Sala" satu artikel yang menarik perhatian saya adalah tulisan beliau yang berjudul:
“Hidup ini Singkat, Floria … Perempuan dalamhidup Santo Agustinus (Hal 43-52).
Tulisan ini diintensikan sebagai pengantar buku Jostein Gaarder "vitabrevis", Jalasutra: Yogyakarta, 2005. Tulisan ini sepintas seperti kisah fiktif yang dikemukakan, namun jika kita menilik lebih dalam lagi, akan terungkap sisi-sisi historis dan upaya pembuktian keilmiahan yang semakin menguat ketika beliau harus membuktikan bahwa memang tulisan Vita Brevis karya Floria yang merupakan kekasih seorang Agustinus, seorang Bapa Gereja adalah benar-benar ada dan dapat dibuktikan eksistensi keberadaannya. Namun demikian secara kuat tulisan ini membawa kita pada sebuah kritisisme makna bahwa ada sisi humanisme yang dialami dalam fase kehidupan seseorang sekalipun ia adalah seorang Bapa Gereja yang suci dan agung. Sisi humanisme dalam hal ini adalah fase pengalaman jatuh cinta, pengalaman mencintai, bahkan kenakalan sensualitas, memiliki buah cinta dan hidup bersama dengan perempuan yang akhirnya tidak mendapat restu dari ibunda Agustinus (Monica). Sisi humanisme ini bukan sebuah hal yang selamanya Salah dan layak dihakimi begitu saja. Point kedua adalah bahwa konstruksi berpikir dengan semangat patriarki seorang Agustinus tidak selamanya mutlak dan absolut. Pandangan-pandangan objektif dari sisi perempuan, dan dari sisi memaknai Tuhan dalam kehidupan seseorang perlu dijadikan pertimbangan yang juga tidak kalah penting dan berbobot. Bagaimana Floria memaknai hubungan cinta mereka adalah sebuah hubungan yang suci karena didasari keinginan yang mulia karena cinta yang sesungguhnya. Bagaimana akhirnya Floria memandang Tuhan dalam hidupnya adalah jauh lebih bermakna dan dalam. Baginya Tuhan Agustinus adalah Tuhan yang menakutkan, Tuhan Floria sebaliknya adalah cinta. Tuhan yang menciptakan surga dan bumi adalah Tuhan yang juga menciptakan Venus. Secara umum dapat dikatakan bahwa konstruksi Benar atau Salah untuk mengukur moralitas seseorang perlu direnungkan kembali, yang kedua apakah pandangan yang berkedok moralitas agamis itu menjadi sebuah jawaban mutlak, apakah tidak perlu meninjaunya dari sisi-sisi atau sekat-sekat yang lain?Tulisan tersebut mempertanyakan hal substansi itu.
Tulisan kedua yang cukup menarik perhatian saya adalah tulisan St. Sunardi yang ditujukan untuk ISI Yogyakarta dengan judul:
ISI Yogyakarta: Centre of Excellence atau Centre of Common Sense (Hal.349-354). Tulisan ini merupakan artikel yang dimuat dalam Harian Kedaulatan Rakyat, 2004 sebagai upaya mengkritisi tulisan Prof. I Made Bandem yang berjudul:
ISI Yogyakarta: Peran, Kenyataan dan Tantangan.
Sebagai bagian dari civitas academika ISI Yogyakarta, bagaimanapun saya merasa sangat bangga memiliki ISI Yogyakarta yang dalam perjalanannya telah melahirkan ratusan bahkan ribuan sarjana seni yang telah memberikan peran yang cukup signifikan dalam mengisi perkembangan seni di Indonesia dan bahkan peran dalam dunia internasional. Melalui tujuan mulia yang dicanangkan Prof. I Made Bandem untuk menjadi centre of excellence atau pusat unggulan seni, secara umum hal ini tidak menjadi masalah yang signifikan, justru saya berterimakasih atas gagasan pemersatu yang menyemangati sejarah panjang perjalanan peran ISI Yogyakarta terhadap dunia. Namun demikian setelah saya juga membaca tulisan ST.Sunardi yang menawarkan gagasan centre of common sense yang bernafaskan pada pendidikan yang juga mampu menjangkau masyarakat sebanyak-banyaknya, menyentuh kepentingan pelbagai kelompok masyarakat, kepentingan budaya maupun seni orang-orang biasa, saya kira hal ini juga faktor yang perlu direnungkan dan dipertimbangkan kembali oleh ISI Yogyakarta sebagai sebuah penguatan gagasan. Saya kira gagasan S. Sunardi juga tidak semata-mata mengkritisi namun juga didasari
rasa kecintaan yang dalam terhadap ISI Yogyakarta, terbukti kejelian beliau menilai, meneropong dan merenungkan peran-peran yang dibawakan ISI Yogyakarta antara lain keunggulan ISI Yogyakarta dalam mengembangkan seni melalui kemampuan mengabsorbsi tradisi ke dalam karya-karya seninya. Sebagai contoh kekhasan karya-karya Heri Dono, misalnya tidak bisa dilepaskan dari keberhasilannya berdialog dengan tradisi secara mendalam sampai tingkat keberanian mendeformasi (kadang-kadang mendistorsi bentuk-bentuk seni tradisional. Warna lokal dihadirkan menjadi sebuah potensi keragaman kebudayaan dan pencerahan baru bagi dunia.
Kedua gagasan tersebut baik Centre of Excellence dan Centre of Common Sense
dapat dikolaborasikan menjadi sebuah penguatan dan pengkayaan baru dalam hal konsep pengembangan tujuan atau visi ISI Yogyakarta. Sebagai sebuah corps pendidikan tinggi seni yang selalu terbuka terhadap semangat zamannya (zeitgeist ). Namun juga nilai-nilai strategis zaman yang harus selalu dikritisi. Menjadi global namun juga perlu mempertimbangkan kekhasan lokal (tradisi sebagai bagian dari karakter bangsa, selalu menjadi nafas dalam berkesenian yang dilahirkan oleh insan-insan seni dari ISI Yogyakarta. Demikianlah ISI Yogyakarta menjadi semakin menjadi pusat unggulan seni yang selalu mendengar dan merasakan, peka terhadap nilai zamannya.
salam budaya!
CV Wiwik Sri Wulandari
2010
As the Speaker of international Urban Research Plaza Seminar in Gadjah Mada University, Yogyakarta, Indonesia which titled :
Distro : Independent Creativity for Independent Industry
(can be downloadable in http://urp.ucrc-yogya.or.id)
Join in the International Seminar of Religion and Arts, by the Faculty of Theology Duta Wacana Christian University
Join in the Blogging Workshop on Pesta Blogger 2010, Celebrating of unity, STMIK Amikom, Yogyakarta
Art Towards Global Competition Fine Art Exhibition, ISI Gallery Yogyakarta (Titled: Dream of Death, Drawing finishing with Digital print on paper, 80x60cm, 2010)
Fine Arts Exhibition of Art for Our Live, Eger, Hungary (titled: Tradition VS Modernity, digital prints on canvas,2010).
2011
Join in Japanese Calligraphy Workshop by Getsurei Mochizuki, supported by Japan Foundation Jakarta at Fine Art Department, Visual Art Faculty, Indonesia Institute of the Arts Yogyakarta.
Fine Arts Exhibition of Membaca Garis, Merayakan pak Broto, at ISI Gallery Yogyakarta. (Titled: The Joke is Over, acrylic on canvas, 2011)
Join in National Seminar of Art Education in Twenty One Century, Celebrating of Twenty Seven Years of Indonesia Institute of the Arts Yogyakarta
2012
Fine Arts Exhibition of Diversity in Harmony, Temple Gallery, Eger, Hungary, which titled "Striking Homer", ink and drawing on canvas, 2012.
Fine Arts Exhibition of Tegangan dan Artikulasi, ITB and ISI Yogyakarta, at ISI Gallery Yogyakarta (titled: Behind the Mask, ink and acrylic on canvas, 2012)
As the speaker of Management of Art Collection at ISI Gallery Yogyakarta (titled: Analisis SWOT yang tidak Sewot atas Kondisi Koleksi Jurusan Seni Murni FSR ISI Yogyakarta)
As the speaker of Book Discussion of ST.Sunardi: Vodka dan Birahi Seorang Nabi, (titled: ST.Sunardi, Floria dan Centre of Exellence) at Postgraduate Program of ISI Yogyakarta
2013
Fine Arts Exhibition of Reading Identity, at Downtown Art Walk Los Angeles, USA (titled: Perserving Tradition, ink and acrylic on canvas, 80x100cm, 2013).
Residence
Jalan Tengiri 7/23 Perum Minomartani, Sleman, Yogyakarta, Indonesia, 55581.
Email: wswulandari@gmail.com/ ws_wulandari@yahoo.com
Mob.Ph. +6281328138444
Fine Arts Department, Visual Arts Faculty
Indonesia of the Art Institute of Yogyakarta, Indonesia
Parangtritis street km. 6,5 Yogyakarta, Indonesia
Email/fb: prodisenimurni@gmail.com
Telp. +62-274-381590 fax. +62-274-371233
Website: www.isi.ac.id/www.fsr.isi.ac.id
Email: fsr@isi.ac.id
Yogyakarta, June 2014
Wiwik Sri Wulandari, M.Sn.
Sunday, April 4, 2010
My New CV
Curriculum Vitae of Wiwik Sri Wulandari, M.Sn.· Born in Jakarta, Indonesia, May, 10, 1976
· Female
· Christian
· Female
· Christian
Education:
Undergraduate Degree : Department of Fine Arts, Indonesia Institute of the Arts of Yogyakarta in 2000 as the cumlaude student
Master Degree: 2006 - 2008 - Master Degree Program in Fine Art Department, Institut Teknologi Bandung, Indonesia
As a Lecturer:2002 -present Indonesia Institute of the Art Yogyakarta Indonesia - Lecturer at Fine Arts Department, Visual Arts Faculty
Art Activities:
1993
Join to Affandi’s painting competition in 100 days Affandi’s death
Got a Second prize on Ornament painting in 7 High School Yogyakarta
1994
Accepted as Student’s Printmaking- Fine Arts Department- Visual Arts Faculty of the Indonesia Institute of the Arts Yogyakarta (ISI Yogyakarta)
1995
Join in Exhibition activities at Fine Arts Department
Join in Art Exhibition of “Dialog 2 Kota” (Dialog of 2 Town) at Galeri Cipta, Taman Ismail Marzuki Jakarta, Indonesia
1996
Cartoon Exhibition ISI III at Bentara Budaya Yogyakarta
Art Exhibition for Kartini’s Day at Sasana Aji Yasa FSR ISI Yogyakarta
1997
Printmaking Exhibition at Fine Arts Department FSR ISI Yogyakarta
Printmaking Exhibition for Dies Natalis ISI XIII at Galeri ISI Sewon
1998
Printmaking and Painting Exhibition of ‘BERTIGA’(Yulis, Justina, Wiwik) at Bentara Budaya Yogyakarta on February 1998
Printmaking Exhibition for Dies Natalis ISI XIV at Galeri ISI Sewon
Printmaking Exhibition on “Bias Kuntum Saraswati” at Affandi’s Musseum of Yogyakarta
Got a Scholastic Distinction: The Best Student of the Indonesia of Art Institute of Yogyakarta 1998
1999
Printmaking Alternative Exhibition on the Indonesia Art Festival at Benteng Vredeburg Yogyakarta
2000
Graduated from Visual Art Faculty of ISI Yogyakarta with the Minithesis’s Title: Social-Politic Theme in the Yogyakarta Contemporary of Visual Arts in the decade of 1990s.
Since Juli 2000 -2002th had Worked as a Graphic Designer and Photographer at PT. SPECTRA Adv. Semarang, Indonesia
Active to make Graphic Design as indoor and outdoor advertising, web-animation, for public and for any exhibitions invitation.
2002
Accepted as a Lecture in Printmaking Department, Visual Art Department of ISI Yogyakarta
Visual Communication Designer for Postgraduate Program the Indonesia Art Institute of Yogyakarta until 2005.
2003Join for Digital Art Exhibition of Art Festival of Yogyakarta 2003 on One Day Digital at Gramedia Yogyakarta (Animation art works)
2004
Presenter at the Desktop Publishing Workshop in Health Department Yogyakarta City.
Partisipate in several seminar local or national on visual arts forum
2005
To be one of researchers for DIKTI funding (Program Hibah Kompetisi A-1) in Fine Art Department, ISI Yogyakarta with Title: Women Theme in Yogyakarta Contemporaray Visual Art: By The Posfeminism Observation.
2007
- Drawing collaboration with Poetry exhibition (Printemps Des Poetes 9e edition “Lettera Amorosa”) at the Centre Cultural of France (CCF) in Bandung, Indonesia.
- Global Warming Kunts Exhibition, at Garuda Wisnu Kencana Bali.
- ”Artcademic Atmosphere”, Jogja Gallery, Yogyakarta, Indonesia.
2008
Some articles which had published on Pikiran Rakyat i.e:
Ekplorasi Medium dan Kritisisme Karya-karya Astari Rasjid,
Parodi Simulasi Negara Dunia Ketiga ala Benzig,
Pop Gerabah Miyuki Anai: Kontemplasi Budaya untuk Indonesia
Master Degree Thesis: The Medium Extensive of Yogyakarta and Bandung Printmaking Art Works.
- Purna Tugas Exhibition at Katamsi Gallery, Fine Arts Department of ISI Yogyakarta.
-Academic Artmospher Exhibition 2008 at Jogja Gallery Yogyakarta.
-Writing on Academic Artmosphere Exhibition 2008 at Jogja Gallery.
-Highlight Exhibition at Jogja National Museum in Yogyakarta(digital print art works, title Daily Hitler’s Game)
2009
Academic Seminar in Visual Arts Faculty with title: the Contemporary Discourse in Yogyakarta’s Printmaking
-Creative designer of ISI Yogyakarta on the Festival Kesenian Indonesia VI IKJ
- Exploration of Creativity Exhibition, D’Peak Art Space Jakarta
(Titled: Neo Gutenberg, Acrylic on canvas, 100x125 cm, 2009)
-Creative designer for Disambar Desember Exhibition at Benteng Vredeburg Yogyakarta
2009-2010
Exposigns Exhibition , Silver Jubillee of ISI Yogyakarta at Jogja Expo Centre in Yogyakarta (Titled: Open Up Your Mind, Recharging Your Brains...Pal!, Digital print on canvas, 250x 180cm, 2009)
2010
As the Speaker of Urban Research Plaza Seminar in Gadjah Mada University, Yogyakarta, Indonesia which title : ‘Distro’: Independent Creativity for Independent Industry (can be downloadable in http://fib.ugm.ac.id/index.php?action=news.detail&id_news=63 or in http://www.ur-plaza.osaka-cu.ac.jp/en/satellite/subcenter.html
Join to Affandi’s painting competition in 100 days Affandi’s death
Got a Second prize on Ornament painting in 7 High School Yogyakarta
1994
Accepted as Student’s Printmaking- Fine Arts Department- Visual Arts Faculty of the Indonesia Institute of the Arts Yogyakarta (ISI Yogyakarta)
1995
Join in Exhibition activities at Fine Arts Department
Join in Art Exhibition of “Dialog 2 Kota” (Dialog of 2 Town) at Galeri Cipta, Taman Ismail Marzuki Jakarta, Indonesia
1996
Cartoon Exhibition ISI III at Bentara Budaya Yogyakarta
Art Exhibition for Kartini’s Day at Sasana Aji Yasa FSR ISI Yogyakarta
1997
Printmaking Exhibition at Fine Arts Department FSR ISI Yogyakarta
Printmaking Exhibition for Dies Natalis ISI XIII at Galeri ISI Sewon
1998
Printmaking and Painting Exhibition of ‘BERTIGA’(Yulis, Justina, Wiwik) at Bentara Budaya Yogyakarta on February 1998
Printmaking Exhibition for Dies Natalis ISI XIV at Galeri ISI Sewon
Printmaking Exhibition on “Bias Kuntum Saraswati” at Affandi’s Musseum of Yogyakarta
Got a Scholastic Distinction: The Best Student of the Indonesia of Art Institute of Yogyakarta 1998
1999
Printmaking Alternative Exhibition on the Indonesia Art Festival at Benteng Vredeburg Yogyakarta
2000
Graduated from Visual Art Faculty of ISI Yogyakarta with the Minithesis’s Title: Social-Politic Theme in the Yogyakarta Contemporary of Visual Arts in the decade of 1990s.
Since Juli 2000 -2002th had Worked as a Graphic Designer and Photographer at PT. SPECTRA Adv. Semarang, Indonesia
Active to make Graphic Design as indoor and outdoor advertising, web-animation, for public and for any exhibitions invitation.
2002
Accepted as a Lecture in Printmaking Department, Visual Art Department of ISI Yogyakarta
Visual Communication Designer for Postgraduate Program the Indonesia Art Institute of Yogyakarta until 2005.
2003Join for Digital Art Exhibition of Art Festival of Yogyakarta 2003 on One Day Digital at Gramedia Yogyakarta (Animation art works)
2004
Presenter at the Desktop Publishing Workshop in Health Department Yogyakarta City.
Partisipate in several seminar local or national on visual arts forum
2005
To be one of researchers for DIKTI funding (Program Hibah Kompetisi A-1) in Fine Art Department, ISI Yogyakarta with Title: Women Theme in Yogyakarta Contemporaray Visual Art: By The Posfeminism Observation.
2007
- Drawing collaboration with Poetry exhibition (Printemps Des Poetes 9e edition “Lettera Amorosa”) at the Centre Cultural of France (CCF) in Bandung, Indonesia.
- Global Warming Kunts Exhibition, at Garuda Wisnu Kencana Bali.
- ”Artcademic Atmosphere”, Jogja Gallery, Yogyakarta, Indonesia.
2008
Some articles which had published on Pikiran Rakyat i.e:
Ekplorasi Medium dan Kritisisme Karya-karya Astari Rasjid,
Parodi Simulasi Negara Dunia Ketiga ala Benzig,
Pop Gerabah Miyuki Anai: Kontemplasi Budaya untuk Indonesia
Master Degree Thesis: The Medium Extensive of Yogyakarta and Bandung Printmaking Art Works.
- Purna Tugas Exhibition at Katamsi Gallery, Fine Arts Department of ISI Yogyakarta.
-Academic Artmospher Exhibition 2008 at Jogja Gallery Yogyakarta.
-Writing on Academic Artmosphere Exhibition 2008 at Jogja Gallery.
-Highlight Exhibition at Jogja National Museum in Yogyakarta(digital print art works, title Daily Hitler’s Game)
2009
Academic Seminar in Visual Arts Faculty with title: the Contemporary Discourse in Yogyakarta’s Printmaking
-Creative designer of ISI Yogyakarta on the Festival Kesenian Indonesia VI IKJ
- Exploration of Creativity Exhibition, D’Peak Art Space Jakarta
(Titled: Neo Gutenberg, Acrylic on canvas, 100x125 cm, 2009)
-Creative designer for Disambar Desember Exhibition at Benteng Vredeburg Yogyakarta
2009-2010
Exposigns Exhibition , Silver Jubillee of ISI Yogyakarta at Jogja Expo Centre in Yogyakarta (Titled: Open Up Your Mind, Recharging Your Brains...Pal!, Digital print on canvas, 250x 180cm, 2009)
2010
As the Speaker of Urban Research Plaza Seminar in Gadjah Mada University, Yogyakarta, Indonesia which title : ‘Distro’: Independent Creativity for Independent Industry (can be downloadable in http://fib.ugm.ac.id/index.php?action=news.detail&id_news=63 or in http://www.ur-plaza.osaka-cu.ac.jp/en/satellite/subcenter.html
Residence
Jalan Tengiri 7/23 Perum Minomartani, Sleman, Yogyakarta, Indonesia
55581. Email: wswulandari@gmail.com / ws_wulandari@yahoo.com
Mob.Ph. +6281328138444
Jalan Tengiri 7/23 Perum Minomartani, Sleman, Yogyakarta, Indonesia
55581. Email: wswulandari@gmail.com / ws_wulandari@yahoo.com
Mob.Ph. +6281328138444
Wednesday, January 6, 2010
Friday, September 12, 2008
Wednesday, March 12, 2008
Membaca Pop Gerabah

Pop Gerabah Miyuki Anai: Kontemplasi Budaya untuk Indonesia
Trend pameran keramik akhir-akhir ini marak diramaikan oleh genre keramik figuratif, namun kali ini penonton agak disuguhi penampilan yang berbeda. Melalui medium pottery, Miyuki Anai seorang perupa keramik Jepang menggelar Pameran Tunggal di Potluck Coffee Bar and Library, Jl Haji Wasid No. 31 Bandung dari tanggal 1 – 15 Maret 2008. Karya-karya keramik yang dipamerkan ini meminjam teknik keramik gerabah tradisional dengan pembakaran bersuhu rendah yang diwujudkan dalam bentuk visual baru disertai pemaknaan baru, karenanya Miyuki menamainya dengan sebutan Pop Gerabah.
Ada sejumlah catatan yang terekam ketika mengamati karya-karya Pop Gerabah Miyuki Anai ini. Pertama, kehadiran karya seni dipengaruhi oleh siapa seniman pembuatnya dan latar belakang penciptaan ide. Seluruh karya yang disajikan Miyuki Anai adalah sejumlah 22 karya terbagi dalam 17 karya dengan medium keramik -bahan tanah liat, keramik, ceramik on decal disertai 5 karya drawing dengan teknik charcoal on paper. Karya-karya tersebut dibuat oleh tangan seorang Miyuki Anai yang notabene adalah warga negara Jepang yang telah tinggal beberapa tahun dan mengamati berbagai corak, sifat dan khazanah gerabah tradisional Indonesia. Ada keterkejutan budaya yang berbeda, dimana budaya mengapresiasi keramik atau benda-benda keramik tradisi buatan tangan sangatlah dihargai di negeri Sakura itu, sedangkan di Indonesia kondisi ini sangat jauh berbeda. Bahkan ketika pengamatan Miyuki meneropong ke wilayah desa-desa gerabah di pulau Jawa dan berbagai daerah lain di Indonesia mungkin diperkirakan akan kehilangan masyarakat penyangga karena lemahnya apresiasi dan attitude menjaga keberlangsungan tradisi. Selain itu, dalam ide yang sedikit berbeda, ia mengamati bahwa kebudayaan daerah di Indonesia ini memiliki keunikan dan kekayaan yang luar biasa, namun oleh karena kehadiran kebudayaan agama-agama modern dan proses modernisasi yang masuk ke Indonesia, menjadikan kebudayaan tradisi tereduksi dan mengalami dilema atas adaptasi budaya baru. Mungkin alasan ini terkesan sederhana, namun inilah wujud keterkejutan budaya yang justru membuat rajutan makna tersendiri baginya selama berada di Indonesia dalam rangka pekerjaan dan studi, sehingga melahirkan bentuk visual baru dalam sejumlah karyanya yang berjudul Gerabah Modern, Koteka Modern, Tea pot & Cup, dan sebagian karya drawingnya di atas kertas. Bagi kita, ide bersahaja ini justru menjadi ironis, karena ide dan gagasan untuk kembali menengok dan mempertahankan tradisi ini disuarakan oleh kawan kita dari Jepang. Sebuah bentuk kontemplasi budaya untuk Indonesia yang didengungkan Miyuki Anai melalui karya-karyanya.
Kedua, permainan visual dan keunikan pemilihan ikon. Ketika menilik karya yang berjudul Koteka Modern, secara visual tentu akan memancing senyum kita sejenak. Bagaimana mungkin koteka terbuat dari bahan keramik, permukaannya dihias sedemikian rupa, terlihat ganjil dan tak masuk akal? Dalam keganjilan kehadirannya, karya ini membawa unsur parodi dan ironi tersendiri. Parodi dalam pengertiannya yaitu mengadopsi teks, karya, atau gaya masa lalu sebagai titik berangkat dari duplikasi, revivalisme, atau rekonstruksi – sebagai ungkapan dari kritik, sindiran, kecaman – sebagai ungkapan dari ketidakpuasan atau sekedar ungkapan rasa humor. Karya ini mengandung parodi karena Miyuki tiba-tiba mengusung kembali ikon tradisi Papua tersebut dalam konteks sekarang dan ia menggarapnya dengan sentuhan warna dan simbol tertentu dengan gagasan mengkritisi kembali tradisi yang dikhawatirkan lenyap tergilas oleh roda-roda modernisasi. Di sisi lain, menurut catatan pembacaan seorang keramikus, kurator sekaligus Dosen FSRD ITB, Asmudjo J. Irianto dalam katalog Pameran Pop Gerabah Miyuki Anai, karya ini menjadi sedemikian ironi karena koteka modern memberi makna konotatif bahwa terdapat sejumlah masalah dalam adaptasi gaya hidup modern. Perubahan dan penetrasi gaya hidup modern yang sedemikian cepat menghasilkan tatanan kehidupan modern Indonesia yang jauh dari mature.

Catatan ketiga agaknya adalah adanya muatan simbolik dalam karya-karya Miyuki. Pada karya yang lain Miyuki menampilkan karya berjudul Modern Gerabah. Secara visual tampilan karya ini tidak jauh berbeda dengan gerabah tradisional umumnya baik secara bentuk, namun menariknya, Miyuki memakai bahan keramik dan menambah sejumlah unsur warna serta bentuk-bentuk visual di permukaannya. Karya Modern Gerabah ini berjumlah sembilan buah dan setiap unsurnya ia beri sentuhan simbol-simbol kebudayaan. Bentuk-bentuk wadah seperti tempayan air besar dan kecil tersebut agaknya tidak difungsikan sebagai wadah yang sebenarnya, namun lebih bernilai simbolik di dalamnya. Dalam catatan selanjutnya, Asmudjo J. Irianto membaca bahwa bentuk dasar wadah itu sendiri merepresentasikan lapisan makna, di antaranya persoalan kehadirannya sendiri – lenyapnya tradisi gerabah. Selain itu wadah tersebut dapat dianalogikan sebagai ’ruang kebudayaan’ tempat manusia berinteraksi.
Keempat, medium gerabah menjadi medium penyadaran. Dalam karya berjudul Gerabah 2, Miyuki dengan sengaja mengusung bahan tanah liat dan membuatnya dengan teknik pembakaran bersuhu rendah, seperti lazimnya pembuatan gerabah tradisi nusantara. Ukuran karya ini relatif besar, namun menariknya ia menambahkan unsur-unsur visual seperti berbagai macam alat perabot yang terbuat dari tanah liat di atas permukaannya. Karya ini agaknya menjadi karya terbesar di antara karya-karya yang lain oleh karena ukurannya. Kendati demikian karya ini memiliki muatan makna yang berbeda, karena unsur-unsur visual pembentuknya turut memberi tanda pembacaan tersendiri. Jika dicermati, di balik karya ini ada muatan ’kegelisahan’ Miyuki membaca keberlangsungan kehidupan desa-desa gerabah Indonesia yang kian tidak mendapat tempat di masyarakat. Alat-alat perabot rumah tangga berbahan tanah liat telah ditinggalkan, dan seiring dengan itu desa-desa penghasil gerabah di nusantara pun lambat laun diperkirakan akan tergeser sejalan dengan kemajuan industri peralatan modern dan proses modernisasi sendiri. Sebagai seniman keramik yang hidup dan tumbuh di Jepang, baginya dan masyarakat Jepang, tradisi atau kebudayaan merupakan pondasi yang kuat untuk memposisikan identitas dalam perubahan zaman. Kendati modernisasi di Jepang mengalami pengaruh budaya Barat namun tetap dihidupi oleh kesadaran dan kemauan masyarakat Jepang menjaga tradisi dan terus meng-up date-nya dalam kehidupan modern. Produksi keramik tradisi pun masih terjaga hingga kini dan terus memiliki masyarakat penyangga. Salah satu bentuk penghargaan dan kecintaan mereka adalah dengan menggunakan benda-benda keramik non-pabrikan (hand made) untuk kehidupan sehari-hari. Kondisi ini agaknya tidak dijumpai Miyuki selama berada di Indonesia. Melalui karya ini Miyuki ingin membuat penyadaran baru bahwa tradisi tidak selalu harus berada di masa lalu, tradisi yang kaya dari khazanah budaya Indonesia ini dapat disisipkan, disintesakan pada kehidupan modern. Tradisi masih terus menjadi spirit dan identitas kultural setiap individu jika diambil nilai-nilainya untuk kemudian di-up date dalam bentuk-bentuk baru. Tentu saja untuk mengapresiasi karya-karya modern berbasis tradisi ini diperlukan masyarakat penyangga dan apresiator agar terus hidup. Harapannya, masyarakat kota atau menengah ke atas dapat menjadi penyangga bagi produksi barang-barang yang dibuat di desa-desa.
Menilik karya-karya Miyuki dalam pameran ini secara keseluruhan, kita dibawa untuk sejenak berkontemplasi terhadap kekayaan khazanah budaya dan tradisi Indonesia yang sedemikian kaya yang dapat dikembangkan, dijaga keberlangsungannya dan disintesakan sesuai dengan konteks zaman. Potensi sumber daya alam dan kesenian Indonesia ini melimpah ruah sehingga diperlukan kreativitas, manajemen dan strategi mengolah potensi tersebut secara berkelanjutan. Dalam konteks seni rupa, karya Miyuki Anai ini memberi nilai rujukan lain dalam memperkaya ide dan medium seni rupa dalam perkembangan seni rupa kontemporer akhir-akhir ini. Selamat mengapresiasi.
Wiwik Sri Wulandari, S.Sn.
Mahasiswi Magister Seni Rupa ITB
Trend pameran keramik akhir-akhir ini marak diramaikan oleh genre keramik figuratif, namun kali ini penonton agak disuguhi penampilan yang berbeda. Melalui medium pottery, Miyuki Anai seorang perupa keramik Jepang menggelar Pameran Tunggal di Potluck Coffee Bar and Library, Jl Haji Wasid No. 31 Bandung dari tanggal 1 – 15 Maret 2008. Karya-karya keramik yang dipamerkan ini meminjam teknik keramik gerabah tradisional dengan pembakaran bersuhu rendah yang diwujudkan dalam bentuk visual baru disertai pemaknaan baru, karenanya Miyuki menamainya dengan sebutan Pop Gerabah.
Ada sejumlah catatan yang terekam ketika mengamati karya-karya Pop Gerabah Miyuki Anai ini. Pertama, kehadiran karya seni dipengaruhi oleh siapa seniman pembuatnya dan latar belakang penciptaan ide. Seluruh karya yang disajikan Miyuki Anai adalah sejumlah 22 karya terbagi dalam 17 karya dengan medium keramik -bahan tanah liat, keramik, ceramik on decal disertai 5 karya drawing dengan teknik charcoal on paper. Karya-karya tersebut dibuat oleh tangan seorang Miyuki Anai yang notabene adalah warga negara Jepang yang telah tinggal beberapa tahun dan mengamati berbagai corak, sifat dan khazanah gerabah tradisional Indonesia. Ada keterkejutan budaya yang berbeda, dimana budaya mengapresiasi keramik atau benda-benda keramik tradisi buatan tangan sangatlah dihargai di negeri Sakura itu, sedangkan di Indonesia kondisi ini sangat jauh berbeda. Bahkan ketika pengamatan Miyuki meneropong ke wilayah desa-desa gerabah di pulau Jawa dan berbagai daerah lain di Indonesia mungkin diperkirakan akan kehilangan masyarakat penyangga karena lemahnya apresiasi dan attitude menjaga keberlangsungan tradisi. Selain itu, dalam ide yang sedikit berbeda, ia mengamati bahwa kebudayaan daerah di Indonesia ini memiliki keunikan dan kekayaan yang luar biasa, namun oleh karena kehadiran kebudayaan agama-agama modern dan proses modernisasi yang masuk ke Indonesia, menjadikan kebudayaan tradisi tereduksi dan mengalami dilema atas adaptasi budaya baru. Mungkin alasan ini terkesan sederhana, namun inilah wujud keterkejutan budaya yang justru membuat rajutan makna tersendiri baginya selama berada di Indonesia dalam rangka pekerjaan dan studi, sehingga melahirkan bentuk visual baru dalam sejumlah karyanya yang berjudul Gerabah Modern, Koteka Modern, Tea pot & Cup, dan sebagian karya drawingnya di atas kertas. Bagi kita, ide bersahaja ini justru menjadi ironis, karena ide dan gagasan untuk kembali menengok dan mempertahankan tradisi ini disuarakan oleh kawan kita dari Jepang. Sebuah bentuk kontemplasi budaya untuk Indonesia yang didengungkan Miyuki Anai melalui karya-karyanya.
Kedua, permainan visual dan keunikan pemilihan ikon. Ketika menilik karya yang berjudul Koteka Modern, secara visual tentu akan memancing senyum kita sejenak. Bagaimana mungkin koteka terbuat dari bahan keramik, permukaannya dihias sedemikian rupa, terlihat ganjil dan tak masuk akal? Dalam keganjilan kehadirannya, karya ini membawa unsur parodi dan ironi tersendiri. Parodi dalam pengertiannya yaitu mengadopsi teks, karya, atau gaya masa lalu sebagai titik berangkat dari duplikasi, revivalisme, atau rekonstruksi – sebagai ungkapan dari kritik, sindiran, kecaman – sebagai ungkapan dari ketidakpuasan atau sekedar ungkapan rasa humor. Karya ini mengandung parodi karena Miyuki tiba-tiba mengusung kembali ikon tradisi Papua tersebut dalam konteks sekarang dan ia menggarapnya dengan sentuhan warna dan simbol tertentu dengan gagasan mengkritisi kembali tradisi yang dikhawatirkan lenyap tergilas oleh roda-roda modernisasi. Di sisi lain, menurut catatan pembacaan seorang keramikus, kurator sekaligus Dosen FSRD ITB, Asmudjo J. Irianto dalam katalog Pameran Pop Gerabah Miyuki Anai, karya ini menjadi sedemikian ironi karena koteka modern memberi makna konotatif bahwa terdapat sejumlah masalah dalam adaptasi gaya hidup modern. Perubahan dan penetrasi gaya hidup modern yang sedemikian cepat menghasilkan tatanan kehidupan modern Indonesia yang jauh dari mature.

Catatan ketiga agaknya adalah adanya muatan simbolik dalam karya-karya Miyuki. Pada karya yang lain Miyuki menampilkan karya berjudul Modern Gerabah. Secara visual tampilan karya ini tidak jauh berbeda dengan gerabah tradisional umumnya baik secara bentuk, namun menariknya, Miyuki memakai bahan keramik dan menambah sejumlah unsur warna serta bentuk-bentuk visual di permukaannya. Karya Modern Gerabah ini berjumlah sembilan buah dan setiap unsurnya ia beri sentuhan simbol-simbol kebudayaan. Bentuk-bentuk wadah seperti tempayan air besar dan kecil tersebut agaknya tidak difungsikan sebagai wadah yang sebenarnya, namun lebih bernilai simbolik di dalamnya. Dalam catatan selanjutnya, Asmudjo J. Irianto membaca bahwa bentuk dasar wadah itu sendiri merepresentasikan lapisan makna, di antaranya persoalan kehadirannya sendiri – lenyapnya tradisi gerabah. Selain itu wadah tersebut dapat dianalogikan sebagai ’ruang kebudayaan’ tempat manusia berinteraksi.
Keempat, medium gerabah menjadi medium penyadaran. Dalam karya berjudul Gerabah 2, Miyuki dengan sengaja mengusung bahan tanah liat dan membuatnya dengan teknik pembakaran bersuhu rendah, seperti lazimnya pembuatan gerabah tradisi nusantara. Ukuran karya ini relatif besar, namun menariknya ia menambahkan unsur-unsur visual seperti berbagai macam alat perabot yang terbuat dari tanah liat di atas permukaannya. Karya ini agaknya menjadi karya terbesar di antara karya-karya yang lain oleh karena ukurannya. Kendati demikian karya ini memiliki muatan makna yang berbeda, karena unsur-unsur visual pembentuknya turut memberi tanda pembacaan tersendiri. Jika dicermati, di balik karya ini ada muatan ’kegelisahan’ Miyuki membaca keberlangsungan kehidupan desa-desa gerabah Indonesia yang kian tidak mendapat tempat di masyarakat. Alat-alat perabot rumah tangga berbahan tanah liat telah ditinggalkan, dan seiring dengan itu desa-desa penghasil gerabah di nusantara pun lambat laun diperkirakan akan tergeser sejalan dengan kemajuan industri peralatan modern dan proses modernisasi sendiri. Sebagai seniman keramik yang hidup dan tumbuh di Jepang, baginya dan masyarakat Jepang, tradisi atau kebudayaan merupakan pondasi yang kuat untuk memposisikan identitas dalam perubahan zaman. Kendati modernisasi di Jepang mengalami pengaruh budaya Barat namun tetap dihidupi oleh kesadaran dan kemauan masyarakat Jepang menjaga tradisi dan terus meng-up date-nya dalam kehidupan modern. Produksi keramik tradisi pun masih terjaga hingga kini dan terus memiliki masyarakat penyangga. Salah satu bentuk penghargaan dan kecintaan mereka adalah dengan menggunakan benda-benda keramik non-pabrikan (hand made) untuk kehidupan sehari-hari. Kondisi ini agaknya tidak dijumpai Miyuki selama berada di Indonesia. Melalui karya ini Miyuki ingin membuat penyadaran baru bahwa tradisi tidak selalu harus berada di masa lalu, tradisi yang kaya dari khazanah budaya Indonesia ini dapat disisipkan, disintesakan pada kehidupan modern. Tradisi masih terus menjadi spirit dan identitas kultural setiap individu jika diambil nilai-nilainya untuk kemudian di-up date dalam bentuk-bentuk baru. Tentu saja untuk mengapresiasi karya-karya modern berbasis tradisi ini diperlukan masyarakat penyangga dan apresiator agar terus hidup. Harapannya, masyarakat kota atau menengah ke atas dapat menjadi penyangga bagi produksi barang-barang yang dibuat di desa-desa.
Menilik karya-karya Miyuki dalam pameran ini secara keseluruhan, kita dibawa untuk sejenak berkontemplasi terhadap kekayaan khazanah budaya dan tradisi Indonesia yang sedemikian kaya yang dapat dikembangkan, dijaga keberlangsungannya dan disintesakan sesuai dengan konteks zaman. Potensi sumber daya alam dan kesenian Indonesia ini melimpah ruah sehingga diperlukan kreativitas, manajemen dan strategi mengolah potensi tersebut secara berkelanjutan. Dalam konteks seni rupa, karya Miyuki Anai ini memberi nilai rujukan lain dalam memperkaya ide dan medium seni rupa dalam perkembangan seni rupa kontemporer akhir-akhir ini. Selamat mengapresiasi.
Wiwik Sri Wulandari, S.Sn.
Mahasiswi Magister Seni Rupa ITB
Monday, January 28, 2008
Seni Rupa Poster Benzig
PARODI SIMULASI ALA BENZIG
Review atas Pameran Seni Rupa Beni Sasmito ’Benzig’
(Artikel ini dimuat di rubrik Khazanah, Harian Pikiran Rakyat Bandung, 26 Januari 2008, hal.31)
Di tengah hingar-bingarnya negara ini membicarakan kabar kondisi kesehatan mantan presiden kedua terkuat republik ini yang semakin meng-’kritis’, dan diantara persoalan bangsa ini yang diusik rasa ‘nasionalisme’-nya oleh karena persoalan klaim-klaim negara tetangga terhadap hak kekayaan intelektual kita, seorang perupa Bandung, Beni Sasmito ‘Benzig’ sedang menggelar pameran tunggal ketiganya bertajuk “Alarm-Sistem Peringatan Dini” di ruang pameran Butonkultur21 Bandung tanggal 18 – 25 Januari 2008 mendatang. Pameran ini akan memajang 35 karya serta 1 album portofolio. Acara pembukaan pameran akan berlangsung Jumat, 18 Januari 2008 pukul 19.00-21.00 WIB di ruang pameran Butonkultur21, Jln. Buton 12 Bandung. Pameran dibuka dari Senin hingga Sabtu, 10.00-17.00 WIB, termasuk forum dialog dari Senin hingga Jumat, 15.00-17.00 WIB.
Sebuah permainan parodi tersaji dalam karya yang di dalamnya terdapat teks yang menyatakan "Pemimpin Revolusi Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata". Daya tarik visual karya tersebut menampilkan wajah si perupa sendiri sebagai subject matter yang sangat kuat tertampilkan menggantikan figur utama Soekarno sebagai pemimpin besar revolusi. Karya ini adalah parodi imaji presiden pertama Indonesia, Ir. Soekarno yang dipinjam oleh Beni Sasmito, perupa yang akrab dipanggil Benzig ini sebagai bahasa metafor salah satu karya visualnya. Pada karya yang lain muncul tulisan "madjoe troes pantang moendoer" yang dengan mudah dapat diketahui bahwa Benzig telah ‘mencomot’ slogan perjuangan bangsa Indonesia pada masa perang kemerdekaan.
Review atas Pameran Seni Rupa Beni Sasmito ’Benzig’
(Artikel ini dimuat di rubrik Khazanah, Harian Pikiran Rakyat Bandung, 26 Januari 2008, hal.31)
Di tengah hingar-bingarnya negara ini membicarakan kabar kondisi kesehatan mantan presiden kedua terkuat republik ini yang semakin meng-’kritis’, dan diantara persoalan bangsa ini yang diusik rasa ‘nasionalisme’-nya oleh karena persoalan klaim-klaim negara tetangga terhadap hak kekayaan intelektual kita, seorang perupa Bandung, Beni Sasmito ‘Benzig’ sedang menggelar pameran tunggal ketiganya bertajuk “Alarm-Sistem Peringatan Dini” di ruang pameran Butonkultur21 Bandung tanggal 18 – 25 Januari 2008 mendatang. Pameran ini akan memajang 35 karya serta 1 album portofolio. Acara pembukaan pameran akan berlangsung Jumat, 18 Januari 2008 pukul 19.00-21.00 WIB di ruang pameran Butonkultur21, Jln. Buton 12 Bandung. Pameran dibuka dari Senin hingga Sabtu, 10.00-17.00 WIB, termasuk forum dialog dari Senin hingga Jumat, 15.00-17.00 WIB.
Sebuah permainan parodi tersaji dalam karya yang di dalamnya terdapat teks yang menyatakan "Pemimpin Revolusi Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata". Daya tarik visual karya tersebut menampilkan wajah si perupa sendiri sebagai subject matter yang sangat kuat tertampilkan menggantikan figur utama Soekarno sebagai pemimpin besar revolusi. Karya ini adalah parodi imaji presiden pertama Indonesia, Ir. Soekarno yang dipinjam oleh Beni Sasmito, perupa yang akrab dipanggil Benzig ini sebagai bahasa metafor salah satu karya visualnya. Pada karya yang lain muncul tulisan "madjoe troes pantang moendoer" yang dengan mudah dapat diketahui bahwa Benzig telah ‘mencomot’ slogan perjuangan bangsa Indonesia pada masa perang kemerdekaan.
Tampilan visual yang menonjol dalam sejumlah 35 karya-karya Benzig ini menunjukkan ragam semangat ‘heroisme’, ‘patriotisme’ dan kebangsaan seperti dalam sajian poster-poster propaganda ala sosialisme Cina, Jerman, atau Rusia. Hal ini akan mengingatkan memori penonton pada upaya pencitraan tokoh atau figur, semangat, ideologi tertentu pada suatu komunitas atau negara tertentu jika mengacu pada poster-poster propaganda negara sosialis. Media seni rupa digunakan sebagai ‘corong’ politik sekaligus strategi visual tertentu demi menanamkan suatu ideologi yang terpimpin (seperti ideologi Nazi di Jerman, Stalinis di Rusia). Tak dapat dipungkiri lagi bahwa kekuatan ideologi visual memiliki potensi luar biasa dalam memompa pengaruh kesadaran maupun bawah sadar seseorang, jika diproduksi secara maha dasyat juga.
Kini di era industri kapitalisme ini, semangat propaganda itu telah menyatu dalam keseharian kita, bahkan kita hidup dalam dunia hiperealitas yang tak terhindarkan lagi. Kita diselubungi oleh kekuatan halus propaganda media iklan (media cetak, TV, Radio, internet, media cetak luar ruang,dll) yang secara lambat namun pasti mempengaruhi ruang bawah sadar kita hampir setiap detik hidup keseharian kita. Bahkan hidup kita telah dituntun oleh citra-citra yang tergambar dalam layar imagi yang terekam dalam segala potensi dasar indera kita dari media iklan propaganda tersebut. Image seorang perempuan adalah ia yang berambut lurus, panjang, berkulit mulus, putih, tak berjerawat, bertubuh langsing, harum, dan lain sebagainya. Jika dicermati lebih dalam, sesungguhnya semangat yang terselubung di dalamnya adalah upaya homogenitas citra yang berujung pada strategi ekonomi-politik kapitalisme industri itu sendiri. Tentu bagi yang bijak dan tanggap, semua akan tergantung pada kecerdasan kita ‘membaca dan mencerna’ berbagai serangan propaganda media tersebut. Betapa dunia hiperealitas ini telah menyatu dalam keseharian kita.
Perupa Beni Sasmito ‘Benzig’ yang saat ini sedang melanjutkan studinya di Magister Seni Rupa ITB ini, menangkap ‘potensi propaganda’ ini sebagai perayaan visual yang potensial dalam menanamkan image tertentu kepada para pemirsa. Ia mengkonstruksi sebuah ‘Simulasi Negara’ yang ia sebut sebagai proyek “Simulasi Negara Dunia Ketiga”. Ia ingin membangun sebuah imagenya sendiri tentang konsep negara dalam karya-karyanya, ia sedang melakukan perayaan parodi tanda-tanda visual, ia sedang menanamkan ideologinya tentang bagaimana konsep negara dunia ketiga melalui penguasaan bahasa metafornya. Walaupun tampak bernuansa politik dengan meminjam sejumlah tanda-tanda visual konsep propaganda politik negara tertentu, namun tersembunyi semangat Pop Art yang cukup dapat dibaca dan dikenali. Upaya memakai dan meminjam tanda-tanda visual ‘lain’ merupakan salah satu perayaan budaya visual postmodern sekaligus upaya mempertemukan seni rupa elitis dan seni rupa publik.
Kesadaran membangun ide perihal citra-citra tanda visual dalam sebuah tema besar simulasi negara dunia ketiga ini sedikit banyak dipengaruhi oleh hasil dari berbagai studi visualnya atas berbagai citraan visual terutama poster dari masa revolusi kebudayaan Cina dan poster-poster Rusia masa Uni Soviet berdiri dan wacana geopolitiknya terhadap negara-negara pascakolonialis seperti halnya Indonesia dan negara-negara yang secara politik sedang bergejolak. Sejauh mana konsep visual dan ideologinya akan dibaca dan ditafsir secara komprehensif oleh dua orang essay contributor yaitu Prof. Dr. Bambang Sugiharto (dosen, guru besar filsafat Universitas Parahyangan Bandung sebagai penelaah filsafat dan seni rupa) dan Hawe Setiawan (jurnalis, penulis lepas dan pemerhati seni rupa) dalam tulisan katalog pamerannya.
Menariknya lagi bahwa pameran tunggal Beni Sasmito ‘Benzig’ ini akan memberi ruang untuk sejumlah pertanyaan dalam forum dialog yang diadakan dari tanggal 21 – 25 Januari 2008, setiap pukul 15.00-17.00 WIB. Dengan demikian paling tidak, satu dari tujuan program yang diselenggarakan oleh Butonkultur21 yaitu mengembangkan riset, produksi dan distribusi seni baru yang dilahirkan dari praktis perkembangan interdisiplin seniman kontemporer dari pameran Benzig ini menjadi catatan tersendiri dalam membangun dialog seni rupa kepada kalangan yang lebih luas. Selamat melakukan pembacaan dan pencernaan visual.
Wiwik Sri Wulandari
Mahasiswi Magister Seni Rupa ITB 2006.
Kini di era industri kapitalisme ini, semangat propaganda itu telah menyatu dalam keseharian kita, bahkan kita hidup dalam dunia hiperealitas yang tak terhindarkan lagi. Kita diselubungi oleh kekuatan halus propaganda media iklan (media cetak, TV, Radio, internet, media cetak luar ruang,dll) yang secara lambat namun pasti mempengaruhi ruang bawah sadar kita hampir setiap detik hidup keseharian kita. Bahkan hidup kita telah dituntun oleh citra-citra yang tergambar dalam layar imagi yang terekam dalam segala potensi dasar indera kita dari media iklan propaganda tersebut. Image seorang perempuan adalah ia yang berambut lurus, panjang, berkulit mulus, putih, tak berjerawat, bertubuh langsing, harum, dan lain sebagainya. Jika dicermati lebih dalam, sesungguhnya semangat yang terselubung di dalamnya adalah upaya homogenitas citra yang berujung pada strategi ekonomi-politik kapitalisme industri itu sendiri. Tentu bagi yang bijak dan tanggap, semua akan tergantung pada kecerdasan kita ‘membaca dan mencerna’ berbagai serangan propaganda media tersebut. Betapa dunia hiperealitas ini telah menyatu dalam keseharian kita.
Perupa Beni Sasmito ‘Benzig’ yang saat ini sedang melanjutkan studinya di Magister Seni Rupa ITB ini, menangkap ‘potensi propaganda’ ini sebagai perayaan visual yang potensial dalam menanamkan image tertentu kepada para pemirsa. Ia mengkonstruksi sebuah ‘Simulasi Negara’ yang ia sebut sebagai proyek “Simulasi Negara Dunia Ketiga”. Ia ingin membangun sebuah imagenya sendiri tentang konsep negara dalam karya-karyanya, ia sedang melakukan perayaan parodi tanda-tanda visual, ia sedang menanamkan ideologinya tentang bagaimana konsep negara dunia ketiga melalui penguasaan bahasa metafornya. Walaupun tampak bernuansa politik dengan meminjam sejumlah tanda-tanda visual konsep propaganda politik negara tertentu, namun tersembunyi semangat Pop Art yang cukup dapat dibaca dan dikenali. Upaya memakai dan meminjam tanda-tanda visual ‘lain’ merupakan salah satu perayaan budaya visual postmodern sekaligus upaya mempertemukan seni rupa elitis dan seni rupa publik.
Kesadaran membangun ide perihal citra-citra tanda visual dalam sebuah tema besar simulasi negara dunia ketiga ini sedikit banyak dipengaruhi oleh hasil dari berbagai studi visualnya atas berbagai citraan visual terutama poster dari masa revolusi kebudayaan Cina dan poster-poster Rusia masa Uni Soviet berdiri dan wacana geopolitiknya terhadap negara-negara pascakolonialis seperti halnya Indonesia dan negara-negara yang secara politik sedang bergejolak. Sejauh mana konsep visual dan ideologinya akan dibaca dan ditafsir secara komprehensif oleh dua orang essay contributor yaitu Prof. Dr. Bambang Sugiharto (dosen, guru besar filsafat Universitas Parahyangan Bandung sebagai penelaah filsafat dan seni rupa) dan Hawe Setiawan (jurnalis, penulis lepas dan pemerhati seni rupa) dalam tulisan katalog pamerannya.
Menariknya lagi bahwa pameran tunggal Beni Sasmito ‘Benzig’ ini akan memberi ruang untuk sejumlah pertanyaan dalam forum dialog yang diadakan dari tanggal 21 – 25 Januari 2008, setiap pukul 15.00-17.00 WIB. Dengan demikian paling tidak, satu dari tujuan program yang diselenggarakan oleh Butonkultur21 yaitu mengembangkan riset, produksi dan distribusi seni baru yang dilahirkan dari praktis perkembangan interdisiplin seniman kontemporer dari pameran Benzig ini menjadi catatan tersendiri dalam membangun dialog seni rupa kepada kalangan yang lebih luas. Selamat melakukan pembacaan dan pencernaan visual.
Wiwik Sri Wulandari
Mahasiswi Magister Seni Rupa ITB 2006.
Subscribe to:
Posts (Atom)
Painting and Printmaking Artworks of Me
Wiwik S. Wulandari, Stop Food Over Consumption , Acrylic on canvas ( painting ), 60x80cm, 2021 Karya ini telah dipamerkan dalam Agenda In...














Bromo from the top




